Senin, 29 Agustus 2016
Demi Masa di Lini Masa
Kau bhak malaikat pencabut nyawa kala itu. Kau datang dengan senyuman. Lalu sekejap membawa kisah perjalan hidupku, kau seret aku ke Beranda mu. Sungguh banyak hal yang tidak ku mengerti.
2 bulan lebih berada disini sangat sulit bagiku. Dengan semua ketidaktahuanku itu terlebih membuatku menyakitkan.
Namun Dokter bhak obat penawar racun. Berusaha menbawaku keluar dari kemelut . Selalu ku ingat di pengawal hari dia datang menemui ku dengan segenggam kabar ditanganya. Yah! Mengehela nafas panjang! Entah itu kabar baik atau kabar buruk. Tapi, itu selalu membuatku jauh lebih baik.
Lagi-lagi aku menangis di atas ketidaktahuanku. Terpuruk? Bukan bukan itu! Menyesal? Bukan juga! Lalu apa?. Meyakinkan diri dengan sebuah tangisan memang sedikit aneh bukan?. Menguatkan diri dengan sebuah tangisan tidak salah bukan?.
Entahlah siapapun tak akan pernah paham perasaanku ini. Rasanya hanya diri sendiri yang jelas mengerti sakit dan begitu pedih dalam keadaan ini.
Tapi kali ini jalan terbuka lebar di pelipis mataku. Jalan luas menyongsong sedikit ingin ku tapaki lalu berlari bahagia.
Aku duduk sambil melipat tanganku di meja dan melihat ke jendela kamar. Kosong! Riuk kepala ini ya Allah!.
Dokter datang lagi dengan lelah dan tulusnya, kerja kerasnya!
Hingga penyakitku perlahan tertendang ditendangnya oleh canggihnya teknologi negeri sakura. Butir butir kimia yang kuat namun menderita.
Selalu ada kekhawatiran di dalam hati. Jauh di lubuk hati seperti tergores perih tak tertahan bahkan sebuah tangisanpun tak bisa hanya untuk sekedar mampu megeringkan lukanya. Ia tetap basah dan menyakitkan. Aku pikir dunia tak berhak hanya untuk sedikit mengambil kebahagian dari hidupku. Maka akan kutapaki jalan yang kini memapar meski terjal dan berbatu tajam. Dunia kau tak berhak sekalipun untuk menghakimi. Bukan karena aku siapa, tapi Allah yang berhak menghakimi diriku.
Suatu lini akupun tertawa riak! Bersama dengan keluarga, teman dan kekasih adalah hal terindah. Riak tangis pun selalu kututupi rapat dan kubalut senyuman manis^^ .
Hingga hanya doa dan Allah yang akan selalu mengubah semuanya menjadi apa yang Ia kehendaki.
Saitama, 30 Agustus 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar